Monday, December 14, 2015
Thursday, April 19, 2012
Pendidikan damai: Intervensi Konflik dari Bilik Kelas Sekolah
Konflik adalah sunnatullah kehidupan, olehnya itu sungguh mustahil bagi manusia untuk menghapuskannya. Ini mengandung makna bahwa konflik adalah realitas dan keberadaannya sudah ada sejak manusia mengenal kehidupan. Olehnya itu, pertanyaan yang paling krusial adalah bagaimana mentransformasi konflik yang ada menjadi sebuah energi perubahan dan pembangunan yang baru. Konflik dapat terjadi dimanapun dan kapanpun, sadar atau tidak, kehadirannya selalu mengejutkan bermula dari masalah sederhana menjadi sesuatu yang kompleks.
Di Indonesia, siswa tidak hanya menjadi obyek kekerasan bahwa mereka juga biasanya menjadi subyek pelaku kekerasan. Ironisnya, sebagian dari kita menganggap bahwa kekerasan dan ketidakadilan adalah kenyataan hidup yang harus kita terima begitu saja. Inilah yang selama ini menutup mata dan hati kita, bahwa ada pilihan lain selain kekerasan. Ada pilihan damai terhadap konflik, demikian juga kekerasan memiliki alternatif dan pilihan lain. Pendidikan damai hadir mengisi pemikiran dan hati peserta didik dengan sikap menghormati diri sendiri dan orang lain, toleransi, empati, jujur, disiplin, keadilan, dan pemerataan.
Peranan media yang gencar menyuguhkan tayangan perang dan kekerasan yang terjadi di belahan dunia, membuat kita semakin tuli akan adanya kondisi lain. Ini diperparah lagi dengan diterbitkannya buku-buku sejarah yang lebih mengagung-agungkan peperangan sebagai satu-satunya solusi terhadap masalah dunia. Tidak sedikit siswa menjadi bangga terhadap kekuatan perang dan angkatan bersenjata negara lain dibanding membaca buku-buku sejarah penggiat perdamain dan anti kekerasan seperti Marthen Luther King Jr. atau Mahatma Gandhi. Pendidikan damai bertujuan untuk membantu siswa melihat bahwa kita punya pilihan lain untuk hidup harmonis dengan sesama manusia dan seisi planet.
Apakah ada hubungan antara konflik kekerasan terhadap prestasi siswa? Jawaban pertanyaan ini terangkum dalam berbagai penelitian sebagai berikut: Penelitian menunjukkan bahwa siswa yang selalu disuguhkan dengan kekerasan, akan mengembangkan emosi negatif, tingkah laku agresif, dan cenderung reaktif (Oshofsky, 1995). Mereka yang mengalami kekerasan sangat sulit dalam memecahkan permasalahan dan tidak menghargai diri sendiri dan orang lain (Lochman dan Dodge, 1994). Anak-anak yang menderita stress post-traumatik sangat sulit fokus terhadap pelajarannya (Singer et al. 1995). Jadi ada kaitan yang erat antara kekerasan yang dialami oleh anak dengan prestasi akademiknya.
Lebih lanjut, evaluasi terhadap program-program pendidikan damai yang dilakukan disekolah menunjukkan bahwa program tersebut berhasil menekan kekerasan di sekolah dan menciptakan suasana pembelajaran yang kondusif (Olmeas, 1994; Sandy & Cochran, 2000; Coleman dan Deutsch, 2001). Oleh karena itu, pendidikan damai disekolah mampu memberikan dampak positif terhadap kecakapan siswa (Boding, Crawford, Schranf, 1994). Jadi dari sisi akademik, kekerasan telah menjadi momok terhadap pencapaian prestasi siswa.
Adam Curle (1971) dalam bukunya Making Peace, mengisyaratkan bahwa tatkala konfliknya sudah laten dan masyarakat tidak menyadari adanya ketidakseimbangan dalam segi kekuatan dan ketidakadilan dalam perlakuan. Maka pendidikan menjadi salah satu opsi terbaik sebagai satu bentuk intervensi. Peranan pendidikan dalam hal ini terutama sekali dialamatkan untuk menghapuskan pembiaran, meningkatkan kesadaran akan kesetaraan hak, dan dapat memutus mata rantai kekerasan yang terjadi. Dengan meningkatnya kesadaran akan kesetaraan hidup satu dengan yang lainnya, hal ini dapat melahirkan keinginan untuk mengubah situasi. Sekarang pendidikan semakin dirasakan peranannya di dalam memitigasi dan mencegah konflik. Pendidikan mampu memberikan proteksi terhadap anak di dalam situasi konflik dengan menciptakan tempat bagi anak untuk bermain dan berlajar (Nicolai & Triplehorn, 2003).
Sekolah menjadi tempat yang paling tepat mengobati trauma anak dan menggantikan memori-memori kelam dengan harapan-harapan baru. Merubah puing-puing kehancuran akibat konflik menjadi istana-istana impian masa depan anak. Hal ini tentu bukanlah sesuatu yang mudah semudah membalikkan telapak tangan, karena diperlukan proses panjang ‘duduk semeja’ dan berbicara dari hati ke hati. Pintu damai tidak terbuka dengan sendirinya melainkan dari adanya koordinasi, kerjasama oleh semua aktor dan kegiatan didalam semua tingkatan. Damai itu akan lebih strategis manakala sumberdaya, pelaku-pelaku, dan pendekatan yang diambil terkoordinasi dengan baik sehingga mencapai tujuan-tujuan yang diidamkan.
Menurut Ian Harris (1996) pendidikan damai sebagai salah satu bentuk intervensi adalah usaha pembelajaran yang dapat berkontribusi terhadap terbentuknya warga negara yang lebih baik. Pendidikan semacam ini adalah sebuah proses transformasi yang bermanfaat terhadap pengajaran nonviolence (tanpa kekerasan) sebagai salah satu alat penyelesaian konflik. Pendidikan damai menyediakan alernatif dengan mengajarkan akar penyebab terjadinya aksi kekerasan dalam waktu yang bersamaan memberikan pengetahuan tentang bagaimana mencegah aksi-aksi tersebut. Perdamaian adalah topik yang bisa diajarkan dalam berbagai mata pelajaran di sekolah misalnya: Pendidikan Agama (mengajarkan tentang perdamaian di setiap agama), sejarah (mempelajari contoh-contoh tindakan anti kekerasan dan pengembangan perdamaian), Goegrafi (mengatasi prasangka dan memperlihatkan hubungan antar sesama) dan Sastra (membaca dan menganalisa karya sastra tentang perdamaian).
Pendidikan damai juga memberdayakan siswa dengan skill, sikap, dan pengetahuan untuk menciptakan lingkungan yang lebih baik. Skill-skill yang diajarkan adalah pemecahan masalah, mendengarkan, refleksi, kerjasama, sensitivitas moral, dan pernghargaan diri dan resolusi konflik. Inti pengajaran pendidikan damai adalah penekanan terhadap pemberdayaan siswa akan nilai-nilai dan hidup tanpa kekerasan (Brahm, 2006).
Pendidikan damai memiliki setidaknya 5 (lima) postulasi utama:
- Menjelaskan akar konflik kekerasan. Sebuah pesan jelas mengingatkan kita semua akan bahaya konflik kekerasan. Pendidikan damai dalam hal ini mengajarkan tentang ‘orang lain’ sebuah label “us and them” (kita dan mereka) untuk mendekonstruksi imej permusuhan satu dengan yang lain.
- Mengajarkan alternatif lain dari kekerasan. Pendidikan damai menawarkan strategi alternatif untuk memecahkan masalah konflik kekerasan yang dapat terjadi akibat pelabelan “us and them” pada poin satu.
- Menyesuaikan dengan kekerasan yang diintervensi. Dinamika pendidikan damai selalu berubah-ubah sesuai dengan akar kekerasan yang diintervensi.
- Prosesnya berjalan secara kontekstual. Pendidikan damai dalam teori dan prakteknya selalu mengedepankan norma-norma dan budaya masyarakat dimana konflik terjadi.
- Konflik itu ada dimana-dimana. Pendidikan damai tidaklah dapat menghapuskan konflik, namun memberi siswa pengetahuan bagaimana mentranformasi konflik yang ada menjadi energi yang lebih positif.
Perjalanan Pendidikan damai sangatlah dinamis dan berubah-ubah. Di Amerika pada awalnya pendidikan damai bertujuan untuk mencegah peran serta masyarakat Amerika dalam Perang Dunia I, sebuah misi yang jelas-jelas gagal. Tujuan pendidikan damai selanjutnya berubah yaitu mendidik masyarakat tentang hidup tanpa kekerasan sebagai alternatif terhadap kekerasan dan perang. Pada jaman sekarang pendidikan damai terutama sekali diarahkan tidak hanya untuk menghentikan kekerasan tetapi menciptakan di dalam benak siswa keinginan untuk belajar tentang nonviolence yang dapat menjadi dasar terciptanya masa depan yang adil dan berkelanjutan.
Salah satu model pendidikan damai di Sulawesi Tengah adalah pendidikan harmoni yang di gagas bersama-sama oleh Wahana Visi Indonesia bersama Dinas Pendidikan dan Pengajaran kota Palu, Universitas Tadulako, GKST, dan Muhammadiyah. Model pendidikan ini dibangun secara kontekstual dengan menggali nilai dan memperkuat kearifan lokal, baik nilai-nilai sosial budaya maupun kekayaan alam hayati, dengan tetap mendukung pencapaian standar kompetensi dasar yang telah ditetapkan. Hasil penggalian tersebut melahirkan 3 Harmoni, yaitu Harmoni Diri, Harmoni Sesama dan Harmoni Alam. Harmoni diri adalah harmoni terhadap diri sendiri, sebagai hasil dari olah rasa, hati nurani dan akal budi. Harmoni diri merupakan perwujudan dari hubungan manusia dengan Tuhan dan menjadi dasar bagi unsur harmoni yang lainnya. Harmoni Sesama adalah penghargaan, penerimaan dan keselarasan hubungan dengan sesama manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan dan Harmoni Alam adalah penghargaan, pemeliharaan dan keselarasan hidup dengan alam semesta, tempat di mana manusia hidup dan berkarya (Laporan penelitian Pendidikan Harmoni WVI, 2011).
Dalam bentuk informal pendidikan damai dapat diberikan dimanapun orang berkumpul untuk bekerja, atau pun bersantai. Sebagaimana di sekolah-sekolah formal pendidikan damai di lingkup informal menekankan pembahasan tentang sikap dan bertujuan untuk mempengaruhi perilaku siswa. Agar pendidikan damai dapat berhasil baik melalui pendidikan formal maupun informal maka perlu diciptakan suasana pembelajaran yang terbuka, suasana dimana setiap siswa merasa diajak dan dilibatkan untuk membahas isu-isu penting bagi mereka, dan melakukan refleksi terhadap perilaku dan sikap mereka sendiri. Interaksi harus terbangun dengan pendekatan teacher to student, student to teacher, dan student to student. Jadi bukan teacher to student atau teacher-led saja. Ini sangat penting karena dengan interaksi yang terbangun 3 (tiga) arah arah tersebut akan terjalin komunikasi dan pengertian antara satu sama lain. Mereka dapat belajar mendengarkan pendapat yang lain, bekerja sama, dan bertukar pikiran dalam suasana yang demokratis dan membangun. Hal ini juga dapat menimbulkan rasa solidaritas yang tinggi dan saling memahami antara satu dengan yang lain.
Pendidikan damai, tidak hanya terbatas pada pendidikan formal dan nonformal saja, tetapi juga dapat dilakukan dengan beragam cara. Pendidikan damai dapat juga dikembangkan melalui lokakarya, pelatihan, kampanye peningkatan kesadaran. Sebagai individu kita bisa berpartisipasi terhadap pengembangan pendidikan damai dengan cara membuat dan menerbitkan buku cerita untuk anak-anak, membuat poster, membagikan lancana perdamaian dan membuat T-shirt dengan pesan-pesan perdamaian. Salah satu yang paling menarik adalah dengan melakukan riset tentang bahasa daerah dan mencari pepatah-pepatah lokal, puisi kuno serta anekdot yang dapat menumbuhkan perdamaian. Dengan demikian dapat memicu kesadaran masyarakat tentang kemampuan bahasa dalam membentuk sikap dan perilaku, bahkan dapat memberi usulan tentang penggunaan bahasa yang lebih peka terhadap perdamaian.
Pendidikan damai bukanlah tawaran solusi konflik lokal yang terjadi di bumi tadulako atau daerah-daerah konflik lainnya, melainkan sebuah usaha mengingatkan kita semua bahwa saya, saudara, dan kita semua dapat berkontribusi terhadap tercapainya perdamaian. Ada asa dibalik semua usaha yang kita lakukan. Kalau konflik itu berasal dari benak dan pemikiran orang dewasa, maka dengan menanamkan nilai damai kedalam pikiran anak-anak, kita berharap dapat ‘menabung’ damai di masa depan.
Tuesday, October 19, 2010
Monday, October 11, 2010
Saturday, June 5, 2010
Asa dan Realita
Jawabannya tentu tidak! perang yang disponsori oleh US dan EU di beberapa negara Islam (Afghanistan, Pakistan, Yaman, dsb) pelarangan Burqa di Francis, diharamkannya pembangunan menara mesjid symbol keagungan dan keindahan arsitektur Islam di Swiss, dan tentunya perang antara Israel dan Palestina. Namun anehnya pada thn 2009 lalu Obama dianugerahi noble peace prize, dimana pada saat itu dia bahkan berpesan ‘legitimasi perang’ yang dia balut dengan bahasa ‘instruments of war do have a role to play in preserving the peace’. Sepanjang legitimasi perang ini selalu didengung-dengungkan oleh pemimpin dunia maka sepanjang itu pula damai damai dipermukaan bumi akan ‘malu’ menampakkan dirinya karena kelihatannya masyarakat manusia lebih menikmati perang demi sebuah ideologi industri persenjataan yang menguntungkan segelintir negara-negara barat. Saya bertanya-bertanya.. Bagaimana mungkin Commander in Chief dari sebuah negara yang terlibat perang 2 perang besar saat ini mendapat tanda kehormatan sepeti itu?
Tragedi kemanusiaan yang terjadi di atas kapal Mavi Marmara tak pelak lagi menambah keraguan saya akan niat tulus Amerika dalam membangun kebersamaan dengan negara2 muslim. Saya tidak dapat membayangkan tatkala negara Islam yang melakukan ‘pembajakan’ terhadap kapal kemanusiaan ini. Saya yakin betul perang terhadap negara muslim pasti dikumandangkan oleh Amerika dan sekutunya. Tetapi karena yang melakukan bukan dari golongan Islam, mereka tidak banyak membicarakannya bahkan melontarkan kata maaf saja mereka enggan. Inilah yang kita sebut dengan double standard negara Barat. Ini sejalan dengan logika Al-Quran: "Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu sampai kamu mengikuti agama mereka."
Reaksi demi reaksi berdatangan terutama sekali dari negara Turki yang selama ini menjadi negara Islam yang berdiri dibelakang Israel, mengutuk tindakan ini serta memutuskan hubungan kerja sama baik militer maupun ekonomi. Europe juga bernada yang sama, menginginkan adanya investigasi independen atas kejadian ini. PBB menginisiasi pertemuan untuk diadakannya investigasi kejadian ini. Apakah semua ini akan berakhir dengan indah bagi panduduk palestina? Bagi saya ‘jauh panggang dari api’ Kalaupun penghapusan blokade ini dilakukan, hal ini tidak akan menjawab dan menyelesaikan konflik yang terjadi di salah satu dari tiga tempat suci ummat Islam di dunia ini. Akar konflik ini adalah perampasan hak-hak penduduk palestina oleh Yahudi, maka sepanjang restorasi hak-hak penduduk palestina ini tidak dilakukan sepanjang itu pula perjuangan mujahid-mujahid muda palestina tak akan pudar. Two state solution yang digembor-gemborkan oleh negara barat bagi saya justru akan menyengsarakan pihak palestina, bagaimana tidak! Israel telah menduduki lebih dari separuh Palestina tidak ada lagi yang tertinggal bagi mereka tanah, air, olive oil bahkan pemukiman mereka diluluhlantahkan oleh Iblis berwujud manusia ini.
Kemana hilangnya kejayaan ummat Islam sejak abad ke 9, kapankah ‘forgotten history’ tentang kejayaan peradaban Islam di Eropa itu kembali ditulis? Dimanakah kemegahan istana El-Hamra akan kembali didirikan, Siapakah yang akan mebangun lambang kekuasaan dan kejayaan peradaban islam seperti Madinat Az Zahra, atau mendirikan menara mesjid berarsitektur seindah Great Mosque of Cordoba. Kapankah terlahir kembali ilmuwan wanita muslim secerdas Al-Ijliya Al Astrulabi penemu Astrolabe yang menginspirasi pengembangan alat2 astronomi atau Seorang Ibnu Sina, dalam ilmu kedokteran? Atau Pionir Philisuf sekelas Ibn Rushd, yang telah mengantar Europa dari "Dark Ages" menjadi kiblat peradaban dunia.
Semoga Asa ini melahirkan realita di masa datang..Amin.
Salam
Washington, DC
Uri
Wednesday, May 19, 2010
Habis Gelap Terbitlah Terang
“Polemik krisis listrik di Palu dan sekitarnya terus berlanjut. Kata kawan saya Kalau ada pembangkit listrik tenaga air dan tenaga matahari sebaiknya ada juga pembangkit listrik tenaga dalam..”
“Sudah pake tenaga diesel, tenaga uap, LISTRIK msh juga sering padam..Nah..Mending pake tenaga Angin berupa kentut !!! biaya murah kapasistas 30.000 MWatt...Ayo !!”
Demikian beberapa komentar status di FB. Sehari kalau komennya ttg lampu pasti dari Palu. Ada beberapa yang beropini masalah lampu ini sudah tergolong isu nasional, tidak salah karena memang masalah pemadaman ini juga terjadi dikota lain. Ada yang berargumentasi bahwa ini bukan tanggung jawab Pemda ada juga sebaliknya, ini juga tidak salah karena memang tidak tertulis didalam tugas abdinya kepada masyarakat namun menurut saya pendapat seperti ini tidak membangun karena Pemda, Pemkot, Pemprov dan Pem2 yang lain bagi saya ibarat ‘imam’ mereka adalah suara dan pergerakan masyarakat. Keluhan rakyat selayaknya meneteskan air mata pemerintah. Ini patut menjadi tanggung jawab moral bagi mereka pemegang kewenangan.
Jangan hanya menari2 didalam kegelapan dan membiarkan masyarakat memejamkan matanya di dalam ketidakpastian. Do something! Kalau sudah melakukan sesuatu pertanyaan selanjutnya adalah apakah sudah maksimal usaha tersebut?
Terlebih lagi kita di dalam konteks Otonomi, pemerintah daerah punya kewenangan untuk mengambil kebijakan yang tepat menyangkut kebajikan bersama. Siapa yang akan mewakili masyarakat palu di meja negosiasi?
Hikmah yang kita idam2 kan berkenaan dengan masalah PLN ini adalah PERUBAHAN. Namun dilemma dari kata ini adalah kita senang mendengarnya dan mengucapkannya tetapi manakala perubahan ini dialamatkan ke diri kita pribadi, terkadang yang bersangkutan reaktif dan enggan untuk memulai perubahan itu. Supaya perubahan ini terlaksana harus ada ‘konflik’ sebagai tenaga penggeraknya. Konflik yang menuju perbaikan adalah konflik yang terjadi tanpa kekerasan. Ingat konflik itu alami tetapi kekerasan tidak.
Ironis memang disaat yang lain meneriakkan ‘Perubahan’ ada segelintir orang yang mendengarkan saja enggan apalagi merangkul perubahan itu. Mereka ini adalah sekelompok yang diuntungkan oleh keadaan. Sehingga mereka lebih cenderung untuk menghalangi arah perubahan itu dengan menghalalkan segala cara. Mereka menari-nari di atas penderitaan orang lain. Astagafirullah!
Tawaran solusi pun bermunculan ada yang menggunakan pendekatan top-down melalui pemerintah pusat dan ada pula yang menawarkan solusi bottom-up. Pendapat pertama saya kira sulit melihat konteks demograpi kita, secara teknis pemerintah tidak bisa menyelesaikan berjubel masalah secara bersama. Masalah di Jakarta saja sulit untuk mereka selesaikan. Yang kedua di dalam mengambil keputusannya Pemerintah selalu berkoordinasi dengan representasi dari pemerintah lokal, nah kalau pemerintah lokal saja tidak merasa bertanggung jawab atas segala yang terjadi di wiliyah kewenangannya bagaimana mungkin kita bisa berharap pemerintah akan memikul tanggung jawab ini.
Bagi yang menganut pendekatan Bottom up biasanya terkendala dalam hal dana, satu masalah yang sangat krusial. Dan tentunya juga mobilisasi, biasanya sangat sulit karena jumlah massa yang terlalu besar dan mencairnya komitmen yang ada di bawah ‘tidak seiya sekata dalam tutur dan tindak tanduknya. Jadi…?
Hemat saya harus ada sekelompok orang yang bisa menjembatani Pemerintah dan Masyarakat, orang ini adalah mereka yang tidak berkepentingan dalam politik dan tidak disibukkan oleh urusan ‘perut’ sehingga bisa mendedikasikan sebagian waktunya untuk kepentingan orang bersama. Siapa mereka? Boleh jadi akademisi yang berintegritas, bisa jadi pemimpin NGO’s yang bekerja untuk kemanusiaan, pemuka etnik/agama yang bicara atas nama dan untuk kepentingan ummatnya. Ini yang kita harus maksimalkan peranannya di dalam menyelesaikan masalah2 sosial yang berkepanjangan. Mereka inilah yang dapat mengkomunikasikan kepentingan Pemerintah dan kepentingan akar rumput. Mereka inilah yang dapat menyiapkan meja diskusi dan menyusun agendanya. Dan yang paling penting dari peran mereka adalah mencoba untuk memberdayakan dan mendidik masyarakatnya. Memberi pencerahan akan hak-hak dan kewajiban akar rumput bahasa moderennya sih, advokasi. Sehingga masyarakat tidak dininabobo’kan dengan ketidakadilan, tatkala masyarakat sudah mengerti akan hak-haknya biasanya disinilah munculnya aspirasi PERUBAHAN. Aspirasi ini biasanya tidak muncul kepermukaan karena masyarakat tidak tau bahwa mereka adalah korban dari kekerasan berstruktur (structural violence).
Namun perubahan bagi sekelompok orang dianggap sebagai malapetaka, karena mereka akan kehilangan aset besar sehingga mereka resisten dan tidak akomodatif. Olehnya itu masyarakat sebagai agen perubahan harus mengidentifikasi ‘kawan’ dan ‘lawan’. Bagi mereka yang tergolong kawan masyarakat harus mampu merapatkan barisan menyatukan komitmen dan sumber daya untuk melakukan konfrontasi dengan pihak lawan. Konfrontasi yang dimaksud adalah konfrontasi yang sehat, tawar-menawar solusi yang terbaik dan jual-beli ide, bukan tukar menukar tinju dan taekwondo.
Kalau masyarakat sudah berdaya dan punya kekuatan untuk mengangkat perubahan kepermukaan terbukalah pintu negosiasi antara yang pro dan kontra. Negosiasi terkadang buntu karena kekuatan yang tidak seimbang antara satu pihak dengan pihak yang lain. Terkadang juga negosiasi tidak berpihak pada masyarakat karena perundingnya tidak kompeten dan tidak mewakili rakyatnya. Dalam konteks palu, saya kurang mahfum faktor kegagalannya dimana, hal yang pertama atau yang kedua, ataukah kedua-duanya? Nauzubillah..!
Kita berharap negosiasi ini berujung pada pencapaian kesepakatan yang memihak kepada kepentingan Rakyat, dan semoga kegelapan di Palu di terangi oleh Lampu Perubahan buah dari komitmen menuju kesejahteraan bersama. Habis Gelap Terbitlah Terang.
Wassalam
Shenandoah Valley
Tuesday, May 11, 2010
The paradox of Justice and Mercy
Keadilan menuntut pengembalian hak kepada pemiliknya, serta memperbaiki kesalahan tanpa menanggalkan konsekuensi terhadap perbuatan pelaku pelanggaran. Memberi ampun disisi yang lain melibatkan rasa kasihan kepada pelaku, memberi ruang ‘manusiawi’ dalam setiap tindak tanduk perbuatan seseorang.
Pernah suatu ketika saya mengunjungi sebuah penjara di Charlottesville, Virginia untuk melakukan wawancara kepada napi, pernah sekali seorang Napi berkata kepada kami ‘…yang membedakan saya (sebagai napi) dan anda adalah bahwa saya tertangkap oleh polisi terhadap kejahatan yang saya lakukan sedangkan Anda tidak..’ ini memberi isyarat bahwa kita selama masih menganggap diri kita manusia pasti kita akan melakukan kesalahan. To err is human.
Kedua energi saling bersinggungan satu dengan yang lain. Namun Uniknya, damai mengajarkan kita untuk menggengam kedua energi ini, dengan kata lain menegakkan keadilan dengan tetap mengindahkan rasa hormat terhadap pelaku dan membuka pintu maaf bahkan sebelum si pelaku mengetuk pintu maaf itu. Hukumlah pelaku sebagai konsekuensi perbuatannya tapi maafkanlah dia atas segala kelalaiannya, untuk membuka lembaran yang baru. PEACE = JUSTICE + MERCY. Dengan demikian Insya Allah damai bersama kita, dan bersama kita damai.
Salam
Shenandoah Valley
Uri
Sunday, March 14, 2010
Sunday, January 3, 2010
'Akal dan Iman'ku
Tidak semua yang berakal itu beriman tetapi yang beriman sudah tentu berakal. Merenungi makna tersirat di dalam pernyataan ini, timbul suatu pertanyaan mengapa yang berakal itu tidak beriman? Untuk menjawabnya terlebih dahulu kita harus memahami sumber atau titik tolak akal dan iman. Akal itu sumbernya terdapat pada kadar ‘ilmu ‘ yang dimiliki sedangkan Iman disisi yang lain bertitik tolak pada ‘hati’, oleh karena terlahir dari dua sumber yang berbeda maka logika akal juga tentunya berbeda dengan logika iman. Sehingga terkadang lebih mudah bagi kita untuk mengubah pendapat ilmiah kita dibanding mengubah kepercayaan dan keyakinan kita.
Thursday, December 31, 2009
Wednesday, December 30, 2009
Yesterday is Gone
Tuesday, December 29, 2009
Sunday, December 27, 2009
Saturday, December 26, 2009
Friday, December 25, 2009
Be Gentle to the Earth
Beberapa riset yang dilakukan di US menunjukkan bahwa terdapat 500 juta sampai satu trilyun plastik yg dikonsumsi pertahun, dan ironisnya kurang dari 1% saja dari material berbahan plastik ini yang didaur ulang, perlu di ingat bahwa mendaur ulang material berbahan plastik lebih mahal ketimbang membuatnya.
Untuk mendaur ulang 1 ton kantongan plastik biayanya akan menelan sekitar $ 4,000 (Rp. 40.000.000 asumsi 10.000 perdolar), sedangkan hasil daur ulangnyakalau terjual hanya akan mencapai $ 32 (Rp. 320.000). Bayangkan kerugian dari sisi ekonominya.
Kebanyakan materil plastik ini terbuang/terbawa ke laut yang mengakibatkan rusaknya habitat laut dan matinya beberapa spesies akibat terkontaminasi. Malapetaka dari sisi lingkungan. Nah apa yang bisa dilakukan?
Salah satu cara yang paling sederhana adalah dengan mengganti kantong plastik belanjaan kita dengan tas yang terbuat dari kain (cloth bags) atau sejenisnya. Satu tas kain bisa-bisa menghemat 6 kantong plastik perminggu artinya 24 kantong plastik perbulan sama dengan 288 kantongan per tahun setara dengan 22.176 per rata2 umur manusia skrg. Nah kalau 1 sj dari 5 orang yang melakukan hal ini berarti kita bisa menghemat 1.330.560.000.000 kantong plastik sepanjang umur kita. Dibeberapa negara skrg seperti Bangladesh, China, Irlandia, Rwanda, dan Beberapa negara lainnya sudah melarang penggunaan kantong berbahan plastik ini. Kota San Fransisco, menjadi kota yang pertama di Amerika Serikat yang melarang penggunaan kantongan plastik, bahkan kedepan ada kebijakan yang memberlakukanpajak bagi siapa saja yang menggunakan kantongan plastik pada saat berbelanja.
Mudah2an ini menjadi pelajaran yang sangat berharga bagi pemimpin bangsa kedepan untuk sensitif terhadap isu-isu kecil (kelihatannya) tapi luar biasadampaknya bagi kelangsungan hidup mendatang. And please be gentle to Earth!!
